Hadirkan layanan dan produk teknologi sebagai solusi bisnis
Widya Matador kembali dengan podcast DoorStop episode ke-2 yang akan membahas topik mengenai peran teknologi dalam pariwisata bersama Gusti Kanjeng Ratu Bendara selaku Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (BPP DIY).
Dalam perbincangan ini GKR Bendara menyampaikan banyak insight tentang dunia pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagaimana pelaku pariwisata mengadopsi teknologi untuk beradaptasi dengan perubahan.
Berikut perbincangan Widya Matador bersama GKR Bendara.
Kalau boleh diceritakan sedikit nih, Gusti. Bagaimana sih kondisi pariwisata sekarang nih? Apalagi akhir-akhir ini Jogja khususnya juga baru memperketat lagi aturan beberapa sektor yang ada di Jogja sendiri.
GRK Bendara: Yang kali ini, gelombang ketiga ini mungkin banyak wisatawan yang sudah vaksin, sudah booster juga. Jadi rasa ketakutan akan Omicron ini tidak terlalu besar gitu ya. Jadi sebenernya antusias masyarakat untuk datang ke Jogja ini semakin hari semakin meningkat walaupun kita dalam situasi PPKM 4. Banyak juga yang ter-cancel gitu ya, rombongan-rombongan besar itu ter-cancel, tetapi rombongan-rombonga kecil yang family dan lain sebagainya itu tetap masih pada datang ke Jogja. Kelihatannya mereka juga sudah rindu gitu ya, untuk ke Jogja juga.
Sejauh ini dukungan dari Badan Promosi Pariwisata dan juga pemerintah khususnya untuk keberlangsungan sektor pariwisata di tengah gelombang 3 yang makin mulai meningkat itu bagaimana, Gusti?
GKR Bendara: Sebenarnya sekarang karena obyek wisata sudah pada buka gitu ya, tentu kalau dari dukungan pemerintah hanya sebatas promosi-promosi saja. Beda dengan gelombang sebelumnya, kita ada insentif, ada secara finansial, keuangan itu kita dukung dan lain sebagainya. Tetapi karena ini (pariwisata) sudah mulai naik gitu ya, jadi lebih kepada bagaimana kita mengembangkan promosinya lagi sekarang. Kalau yang dulu itu kita maju salah, mau promosi salah, enggak promosi salah gitu ya. Tapi sekarang kita sudah bisa mulai promosi untuk “Ayo datang ke Jogja” dan lain sebagainya.
Strategi atau stimulus promosinya tersebut kalau dari Gusti sendiri di Badan Promosi Pariwisata khususnya Yogyakarta itu inovasi-inovasi seperti apa, Gusti?
GKR Bendara: Kalau kita itu masih harus hati-hati gitu nggih. Karena kalau kita… yang pasti kita tidak bisa berpromosi ke luar negeri karena memang belum menjadi target market-nya kita di tahun ini. Tetapi mungkin di akhir tahun baru kita bisa berpromosi ke luar negeri dan lain sebagainya. Tetapi untuk saat ini karena kita masih bermain di domestik sehingga kami mencoba untuk menjalin kerjasama antar Badan Promosi Daerah seperti Jogja, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Paling tidak di Pulau Jawa ini kita konsolidasi, kita ketemuan, kita bikin paket bersama, kita bikin MoU (perjanjian kerja sama) supaya kita bisa membuat satu paket berkesinambungan. Nah… ini yang mulai kita bangun dari sekarang dan juga kita kalau berpromosi kaya misalnya Table Top dan lain sebagainya itu sudah kita lakukan juga di tahun ini programnya. Kalau tahun lalu kita masih agak membatasi gitu kan? Tapi tahun ini kita sudah buka semua.
Akhir-akhir ini varian Omicron kembali meningkat, orang ada yang takut juga ada yang biasa saja karena masih simpang-siur. Bagaimana Gusti sebagai Ketua Badan Promosi Pariwisata menyikapi hal tersebut?
GKR Bendara: Pertama-tama saya tidak bisa bilang bahwa Omicron ini tidak berbahaya ya. Karena tergantung imunitas masing-masing gitu ya. Tetapi bagaimanapun juga protokoler kesehatan itu utama gitu ya. Sekarang masker jangan dilepas, cuci tangan tetap harus ya. Walaupun memang secara rata-rata Omicron itu mortality rate-nya sangat rendah. Tetapi tentu saja ada masyarakat yang masih rentan juga terhadap Omicron. Ada yang memang komorbid, terutama sekarang banyaknya adalah menyerang ke anak-anak yang di bawah 16 tahun karena mereka belum booster dan anak-anak di bawah 6 tahun yang belum vaksin.
Nah… ini contohnya saya punya anak umur 4 tahun. Ini saya juga agak worried untuk anak saya yang besar mau masuk sekolah atau enggak, karena takutnya nanti di sekolah mereka buka masker lalu dan lain sebagainya, ke rumah dan lain sebagainya.
Sebenarnya berwisatalah, jalan-jalanlah gitu ya. Karena memang saya tidak bisa menghalangi. Karena, satu kita juga sudah jenuh, kita di rumah terus, sudah dua tahun lebih malahan dan ini juga untuk perputaran ekonomi Jogja juga. Kita juga butuh wisatawan gitu ya, tetapi bagaimanapun kita selalu mengatakan bahwa “Ayo taat protokoler kesehatan.”. Jangan sampai galak kalau lagi ditegur gitu ya.
Kalau main ke Malioboro silakan, tapi jangan lupa begitu selesai makan pakai masker lagi. Ketat dengan dengan protokol (kesehatan).
Sekarang kita diuntungkan dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dari Badan Promosi Pariwisata apakah ada strategi yang diadaptasi dan berinovasi menggunakan teknologi tersebut?
GKR Bendara: Dari segi teknologi tentunya kita mencoba untuk mengurangi transaksional yang menggunakan cash. Kita mendorong yang untuk QRIS, cashless gitu ya. Lalu misalnya booking dulu, misalnya lihat ke lokasi dari Visiting Jogja yang kita punya di Jogja. Kita ada aplikasi Visiting Jogja, kita bisa lihat di sana ada berapa banyak pengunjung yang saat itu sedang ada di sana dan lain sebagainya. Itu bisa memberi persepsi di sana ada 5.000 orang misalnya, mau ke sana atau tidak itu jadi pilihan. Hal-hal seperti itu bisa kita terapkan untuk mendorong pariwisata.
Tapi hal misalnya seperti virtual tour gitu ya. Virtual tour itu mungkin bisa menguntungkan untuk lokasinya tetapi untuk UMKM sekitarnya itu jadi merugikan karena tidak ada orang yang datang ke lokasi dan juga experience yang didapat dari actually datang dan virtual tour itu kan berbeda.
Apakah pelaku Parekraf (pariwisata dan perekonomian kreatif) khususnya di Jogja ini sudah familiar dengan perkembangan teknologi yang ada?
GKR Bendara: Ini menjadi tugas yang lumayan berat, karena sebenarnya Parekraf itu terletak di pariwisata, UMKM dan koperasi. Nah ini sedang bersinergi untuk melakukan pelatihan-pelatihan untuk mendorong UMKM di Jogja ini untuk go digital. Tapi banyak juga, tidak dipungkiri bahwa UMKM Jogja itu ada beberapa yang tidak cocok untuk di-digital-kan. Misalnya seperti yang dagangannya hari itu harus dimakan segera, fast moving gitu ya, itu kan juga sulit. Ada beberapa item yang memang tidak bisa, yang custom dan lain sebagainya.
Kalau yang lainnya memang sedang kita dorong untuk mereka go digital. Jadi dari Dinas Pariwisata dan juga Dinas Koperasi beserta UMKM ini memang sedang besar-besarnya untuk mendorong mereka go digital. Karena kami dari Badan Promosi Pariwisata ini kan berkaitannya dengan dua dinas tersebut. Jadi bagaimanapun kami juga mensupport project-project apa yang ada di dinas, contohnya kalau Dinas Pariwisata punya Visiting Jogja, kalau Dinas Koperasi dan UMKM punya Si Bakul. Nah, Si Bakul ini sebuah aplikasi yang memang akhirnya tidak hanya seperti ecommerce yang lainnya, tapi yang begitu mereka mendaftar ke Si Bakul, mereke punya prioritas kelas-kelas gratis yang ditawarkan kepada mereka.
Untuk Badan Promosi Pariwisata Yogyakarta sendiri, program atau project yang paling dekat yang akan digarap apa ya, Gusti?
GKR Bendara: Yang paling dekat kita akan MoU dengan Solo, jadi dengan Badan Promosi Solo dan juga Semarang. Jadi memang kita prioritasnya adalah yang dekat dulu, yang Jawa Tengah. Sehingga kita bisa punya sinergi antar Joglosemar (Jogja Solo Semarang) ini. Sehingga wisatawan kalau misalnya datang, , mereka mau menginap di Solo, lalu main ke Jogja, nanti menginap lagi ke Semarang dan lain sebagainya itu ada sinergi antara kita. Jangan sampai kita malah berebut kue, bagaimana kita bisa bersinergi supaya tidak berebut kue, tapi kita membagi rata kue tersebut.
Terakhir nih, Gusti. Untuk teman-teman yang berencana datang ke Jogja, mau wisata ke Jogja sebelum Lebaran atau mungkin malah nanti saat libur Lebaran. Mungkin Gusti bisa menyampaikan pesan.
GKR Bendara: Untuk semua wisatawan yang mau mampir ke Jogja, mampir lah. Tapi jangan lupa untuk, kunjungi desa wisata, beli UMKM Jogja dan jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan.
